Jadilah Pribadi Yang Realistis. Kenapa?

Alkisah, suatu hari ada seorang Anak bertanya pada Bapaknya, “Pak, kenapa Bapak sayang sama Ibu?” Dihiasi senyum ikhlas, Bapaknya menjawab dengan nada bijak, “Karena cuma Ibu yang mau sama Bapak..” Kemudian, sang Anak mengangguk mengerti dan penuh makna. Cerita pun tamat. HEHEHE.

Cerita di atas adalah contoh sederhana bersikap realistis. Di masa yang serba di-posting ke media sosial ini, kadang beberapa orang terlalu berlebihan dan maksain dalam mengkehendaki segala sesuatunya.

Demi menghindari hal berlebihan dan maksain itulah kita harus bersikap realistis. Mengapa? Ini alasannya..

Nggak semua hal bisa kita dapetin

Well, ini adalah salah satu hal paling mendasar dalam hidup. Sama kayak nggak semua doa bakal dikabulin. Nggak semua hal bisa kita dapatkan sekeras apa pun berusaha. Dengan bersikap realistis, kamu jadi bisa fokus dengan hal lain yang kiranya sanggup kita dapetin –tentu dengan nilai yang sama. Katakanlah, nggak bisa dapetin yang ini, dapetnya yang itu. Meskipun justru hal lain yang didapetin, tapi itu bukan berarti buruk, kan?

Mudah merasa bahagia

Ada beberapa orang yang menstandarisasi kebahagiaannya dengan beberapa hal yang harus dipenuhi terlebih dahulu, barulah merasa bahagia. Hmm.. bukankah itu malah bikin diri merasa terbebani? Mau bahagia aja kudu ribet dulu, tapi ya terserah sih. Manfaat bersikap realistis itu supaya kita mudah bahagia karena nggak perlu banyak cara dan harus ada prasyarat. Realistis. Apa yang udah dimiliki dari usaha sendiri, ya itulah yang harus membuat kita bahagia tanpa harus bermuluk-muluk.

Supaya kamu nggak selalu merasakan manisnya harapan

Harapan adalah bahan bakar kita untuk berjuang meraih sesuatu. Tapi dalam beberapa momen, harapan nggak selalu berbuah manis, malah bisa jadi pil pahit yang harus ditelan karena kenyataannya kita gagal. Sebetulnya, dalam proses yang ada adalah berhasil dan belajar. Dari kegagalan itu kita jadi belajar supaya lebih jeli menghadapi, menyikapi, dan menyelesaikan sesuatu, sehingga di kesempatan berikutnya bisa berhasil. Lalu, kenapa harus realistis? Kadang, nggak semua kegagalan mesti dicoba lagi, kita harus mengenal kata berhenti dan cukup.

Biar nggak delusional

Pernah punya teman atau ngeliat orang yang suka ngaku punya ini-itu? Omongannya selangit seolah dia hebat dan eksklusif, tapi kenyataan yang kita tau adalah sebaliknya? Ya, itu adalah contoh dari delusional. Salah satu sifat paling menyedihkan. Bersikap realistis itu gunanya menghindari kita dari sifat delusional. In case beberapa hal kita yang nggak bisa direalisasikan, ya diterima aja. Nggak perlu deh tuh ngaku-ngaku sampai jungkir balik di depan orang-orang bahwa punya ini itu, tapi pada akhirnya hanya omong kosong belaka.

Inget, cuma titipan

Semua hal yang kita punya ialah titipan dari Yang Maha Memberi. Dengan bersikap realistis, kita jadi inget ketika kehilangan beberapa hal yang sangat kita sayangi dan jaga, kita tetap waras. As simple as thatSo, the point is realistis adalah sikap supaya kita melakukan dan berpikir sewajarnya. Nggak ada yang berlebihan dan kekurangan. Seimbang. Hidup pun jadi nggak be’em dan senantiasa bersyukur. Setuju guys?